Sejak tahun 1945 telah enampuluh tiga kali tanggal tujuh belas Agustus. Bagi rakyat Indonesia, tanggal ini adalah tanggal keramat yang selalu dirayakan , yang kemudian dikenal menjadi hari raya tujuhbelasan. Ritual tujuhbelasan ini akan datang lagi dalam beberapa hari kedepan. Apakah tujuhbelasan akan menjadi sekedar ritual tahunan yang akan dibiarkan berlalu dengan segala hiruk pikuk keramaian pesta, lomba dan karnaval saja?
Saya, seorang warga negara, yang sedikit lebih muda dari republik ini, memiliki potret berupa mozaik yang ingin ditumpahkan kedalam blog ini. Mohon maaf, potret yang akan saya tampilkan lebih banyak potrek buruk. Kenapa? Karena saya sangat ingin negeri ini jadi semakin baik, dan untuk menjadi baik kita harus sadar dulu bahwa kita memang buruk.
Potret ini mungkin lebih banyak diambil di Jakarta, ibukota negara, etalase Indonesia, kampung besar tempat saya beraktifitas, dan segala julukanya.
Masalah yang mengemuka di Jakarta adalah masalah lalu lintas. Ciri khas lalu lintas di Jakarta adalah: berebut menguasai jalan, berhenti sesuai dengan kebutuhan disembarang tempat meskipun terlarang untuk berhenti, tidak memberi kesempatan kendaraan yang di depan untuk jalan lebih dahulu. Dan yang paling menonjol adalah pengguna jalan tidak patuh pada aturan lalu lintas, mereka akan patuh aturan kalau ada polisi. Pada hal aturan lalu lintas itulah yang mengatur kita dijalan raya, sedangkan polisi hanya mengawasi kepatuhan pemakai jalan atas aturan tersebut. Jangan sampai polisi diposisikan sebagai aturan itu sendiri.
Seorang pakar sosiologi yang saya lupa entah saya baca dimana, tapi saya ingat sekali pesannya. Sang pakar mengatakan: Kalau mau melihat tingkat keteraturan dan kedisiplinan suatu bangsa, anda tinggal melihat lalu lintas di kota mereka. Persis itu yang tercermin dalam lalu lintas kita, yaitu kesemrawutan yang menggambarkan kesemrawutan cara berpikir kita.
Kita semrawut dalam melaksanakan rencana tata ruang kota, sehingga lalu lintas nya semrawut. Kita semrawut dalam bertindak sehingga berlalu lintas sesuai dengan keinginan sendiri. Kita lupa di jalan banyak orang lain yang perlu dipertimbangkan. Karena semua maunya sendiri-sendiri maka lalu lintas nya semakin mampet. Kita semrawut mengatur lalu lintas sehingga pengaturan membuat lebih tidak teratur.
Melihat kenyataan kadang-kadang saya tidak percaya atas pengamatan sepintas, bahwa dekat kantor polisi pun terjadi kemacetan, tidak tahu entah kenapa. Apakah karena ditempat itu memang macet sehingga perlu dibuat kantor polisi atau kantor polisinya yang membuat kemacetan.
Masalah berikut yang mendera kita adalah masalah sampah. Tidak ada kesadaran warga membuang sampah pada tempatnya, dan celakanya lagi tempat-tempat pembuangan sampah pun tidak mampu dikelola dengan baik sehingga sampah menumpuk. Sementara itu pemerintah bergelut dengan masalah pembuangan akhir yang penuh dengan sengketa penolakan. Kenapa terjadi penolakan? Karena secara historis sampah dikelola sebagai barang kotor yang harus disimpan jauh-jauh dibelakang. Padahal sampah bisa dikelola dengan bersih dan sehat, karena sampah tidak selalu barang kotor, tapi sampah adalah barang sisa yang tidak diperlukan sehingga dibuang jadi sampah.
Pendidikan juga merupakan masalah yang sangat pelik. Masalah pendidikan adalah masalah nasional. Kita sampai saat ini tidak dapat keluar dari kemelut pendidikan yang sudah menjadi lingkaran setan. Masalah manajemen pendidikan termasuk pendanaan adalah masalah klasik yang belum teratasi. Kalaupun anggaran pendidikan sudah naik menjadi 20 % dari APBN, masih rawan terhadap penyalahgunaan atau pemakaian dana yang tidak effektif. Masalah sektor manajemen pendidikan telah menelan energi sehingga energi sisa tidak cukup untuk memikirkan materi pendidikan. Kita sudah lupa mengajarkan kepada murid-murid sejak dari tingkat dasar agar mereka memercayai dan menghargai usaha dan pikiran sendiri. Kita lupa mendidik anak-anak kita untuk membentuk habit disiplin. Tipisnya penghargaan atas usaha sendiri dan kurang disiplin dalam berbuat akan menjadikan budaya ‘nyontek’, budaya mendongkrak nilai, dsb menjadi lumrah, apalagi diembel-embeli dengan ‘demi menjaga reputasi sekolah’.
Alam demokrasi yang menjadi euphoria dalam 10 tahun terakhir, adalah suatu hal yang menggembirakan. Juga tidak dapat dipungkiri kebebasan demokratis melahirkan sikap kontra produktif dengan lahirnya golongan yang mau menang sendiri dan memaksakan kehendak. Dunia politik dan birokrasi pun dipenuhi dengan pejabat, wakil rakyat, penegak hukum yang koruptif. Jiwa koruptif adalah turunan langsung dari budaya pendidikan yang ‘nyontek’ sehingga menimbulkan habit ketidak jujuran.
Apakah tujuhbelasan akan tetap sebagai hari raya makan krupuk dan panjat pinang, atau sekedar mengagungkan kepahlawanan bambu runcing. Makna kemerdekaan yang mana yang akan membekas, apakah ritual tujuhbelasan atau usaha menjadikan bangsa ini tegak dan bermartabat. Kalau kita pilih yang kedua, maka diperlukan kerja keras, merubah paradigma dengan orientasi kedepan, memerlukan pengorbanan walaupun ini kata-kata yang sudah menjadi klise, tetap masih diperlukan.
Banyak potret yang perlu ditampilkan, namun rasanya tidak akan muat dalam blog ini. Saya cukupkan saja dulu sampai disini. Mungkin kalau saya lagi mood dapat disambung lagi.
Merdeka…..!!!